Migrasi Uang Fiat ke Dinar, Harapan, Ilusi atau Angan-Angan Utopia ?

Migrasi Uang Fiat ke Dinar, Harapan, Ilusi atau Angan-Angan Utopia ?

Migrasi Uang Fiat ke Dinar yang kian marak di masyarakat akhir akhir ini dengan adanya pasar muamalah membuat pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) mengeluarkan semacam ancaman hukuman jika “mengganti” mata uang rupiah dengan dirham sebagai alat transaksi.

Migrasi Uang Fiat ke Dinar,
Harapan, Ilusi atau angan-angan Utopia ?

Migrasi Uang Fiat ke Dinar
Dinar

oleh Ahmad Bahardi

Sudah puluhan tahun marak para aktivis Anti Riba mengkampanyekan Dinar sebagai pengganti Uang Kartal. Dipelopori Amerika melalui Presiden Nixon 1973 , uang Dollar tidak lagi di backup oleh Emas tapi menggunakan sistem Floating Exchange Rate. Sistem ini membiarkan valuasi Uang ditentukan oleh Pasar. Kebijakan Nixon ini ditiru oleh hampir semua negara maju. Sekarang secara De Facto, sistem Floating Exchange Rate dipakai oleh semua negara dalam mata Uang Fiat mereka.

Sistem Floating Exchange Rate berdampak fluktuasi nilai mata Uang Fiat. Bukan hanya terhadap mata uang fiat asing juga terhadap barang dan jasa. Terhadap mata uang fiat asing nilainya bisa dilihat melalui nilai Kurs, sementara untuk barang dan jasa dilihat fluktuasi nilainya melalui parameter Inflasi. Untuk Lembaga Finance menggunakan BI Rate yang parameter utamanya Inflasi ditambah Makro Ekonomi lain dan Kebijakan Moneter Negara.

Untuk domestik karena nilai uang dipengaruhi inflasi maka setiap utang piutang bisa dinilai adil jika dimasukkan faktor inflasi. Misal si A minjam uang 15 juta tahun 1994, jika dia mengembalikan tahun 2020 sebesar 15 juta maka itu sama sekali tidak adil karena harga 15 juta tahun 1994 bisa membeli Toyota Kijang Gress atau Rumah di kompleks menengah type 45/120. Di tahun 2020 jangankan beli Mobil Kijang, motor saja tidak dapat. Rumah Type 45/120 jangankan dibeli, untuk sewa setahun saja tidak cukup.

Kalau ditambahkan inflasi maka si A ini harus mengembalikan uang sekitar 300 jutaan baru adil. Faktor floating rate asal muasal dari adanya Intereat rate (bunga). Inflasi/BI Rate salah satu komponen utama dari Bunga. Karena BI Rate naik turun, bunga dari pinjaman Lembaga Financial puh naik turun.

Ribawi

Dihubungkan dengan Fiqih, seperti kita ketahui barang ribawi menurut Islam adalah Emas, Perak, Makanan Pokok (Gandum, Jejawut, Kurma),dan Garam. Beberapa ulama menganggap Uang Fiat bukan barang ribawi karena sudah tidak dibackup Emas dan sifatnya jauh berbeda dengan Emas. Emas cenderung nilainya tetap sementara Uang Fiat valuasinya terus menurun tergerus Inflasi. Sebagian ulama lain, bahkan mayoritas tetap menganggap Uang Fiat sebagai barang ribawi karena bisa dikiaskan dengan emas sebagai alat pembayaran.

Karena Uang Fiat dianggap barang Ribawi maka pembayaran kelebihan uang masuk kedalam Riba. Ini dilema, nilai uang terus menurun karena inflasi tetapi mengembalikan uang dengan tambahan agar tidak dirugikan inflasi dihukumi Haram Riba. Para pelaku pasar muslim dalam Pinjam Meminjam terpaksa berakrobat mensiasati dengan prinsip akad jual beli, sewa menyewa, kerjasama dll. Walaupun begitu sebagian aktivis Anti Riba merasa itu adalah akal-akalan. Selama masalah utamanya yaitu Uang Fiat tidak diganti Dinar, maka semua transaksi keuangan adalah Riba yang ditutupi dengan topeng. Semua orang terkena dosa atau minimal terkena hukum darurat selama menggunakan uang Fiat.

Walaupun saya tidak setuju, tapi saya tidak akan membahas lebih jauh klaim seperti itu dalam tulisan ini.

Dinar Dirham

Nah berikut strategi seharusnya Migrasi Uang Fiat ke Dinar yang benar menurut saya pribadi sebagai Profesional Sektor Finance . Dan apakah tindakan aktivis Anti Riba pro Dinar ini sistematis atau justru kontra produktif.

1. Kuasai Executive dan Legislative. Langkah ini penting karena hanya mereka lembaga resmi yang menentukan alat pembayaran sah di suatu negara. Tanpa endorsement dari mereka sulit memasyarakatkan Dinar/Dirham sebagai alat pembayaran. Di Indonesia malah ada ancaman hukum jika menggunakan mata uang lain selain Rupiah dalam pembayaran.

Ini tantangan berat karena untuk berkuasa harus melalui jalur Demokrasi. Islamis yang ikut demokrasi malah diserang darimana-mana. Dianggap jual agama oleh Kaum Liberal, dihukum mengikuti sistem Thagut oleh Kelompok Jihadi, dan dicap Khawarij karena dianggap bertanding melawan penguasa oleh kelompok Salafi.

2. Kuasai sektor Finance dan Moneter seperti Bank Sentral, Bank-Bank Komersial Utama, Pasar Modal, Lembaga Pengawas OJK, Kementrian Keuangan dan Kementrian Ekonomi lain.

Di tangan merekalah arah kebijakan financial , fiskal, dan moneter ditentukan. Jika hanya memperhitungkan untung rugi kebijakan penggantian Dinar tidak menguntungkan malah dalam proses transisi akan mengakibatkan guncangan ekonomi. Maka penerapan Dinar tidak bisa dilakukan mendadak segera tapi membutuhkan road map jangka panjang. Dibutuhkan nafas yang panjang dan konsistensi. Karena itu ummat Islam mutlak harus menguasai sektor Finansial.

Kenyataannya lebih berat lagi. Propaganda anti Riba tak terarah membuat ramai-ramai para aktivis Islam meninggalkan Sektor Financial. Lebih senang jualan cilok atau herbal karena lebih tenang tidak dicaci maki sebagai pendosa yg setara berzina dengan ibu kandung. Kalau ditinggalkan siapa yang mengisi pos strategis itu ? Pasti orang lain. Nah apa mereka mau dibawa Migrasi ke Dinar.

3. Menguasai Ekonomi Negara yang kuat dan Teruji.

Ibarat sedang menaiki kendaraan di kecepatan tinggi jika ingin berbelok maka laju kendaraan harus melambat atau malah berhenti dulu jika belokannya sangat tajam. Begitu pula dengan ekonomi. Rencana Pemotongan 3 angka nol di mata uang Rupiah saja peristiwa besar apalagi pergantian Uang Fiat ke Dinar. Pasti ada perlambatan atau goncangan ekonomi. Baru niat saja, nilai rupiah pasti anjlok duluan padahal Dinar belum berlaku. Belum lagi kerumitan mengganti sistem teknologi moneter, jaringan, supply emas harus siap sedia.

Karena itu ekonomi kuat dan dukungan pasar sangat mutlak. Kalau tidak ekonomi keburu hancur duluan bahkan sebelum masa peralihan dimulai.

Kondisi ekonomi negara saat ini bahkan beberapa puluh tahun kemudian sangat tidak memungkinkan. Selain ekonomi kita yang lemah dengan hutang menumpuk, penguasaan ekonomi pun menghawatirkan. Coba lihat Perusahan-perusahan besar penguasa hajat hidup orang banyak. Coba lihat daftar orang-orng terkaya di Indonesia. Sangat sedikit muslim apalagi yang mendukung migrasi ke Dinar bisa dibilang tidak ada.

4. Militer yang Kuat

Selain ekonomi , militer pun sangat penting. Beberapa negara besar sudah menikmati mata uangnya sebagai mata uang acuan. Tidak akan tinggal diam dan akan intervensi jika ada mata uang negara lain yang mendominasi. China saja yang sangat kuat secara ekonomi dan militer masih berhati-mati dalam menjadikan mata uang Yuan sebagai salah satu mata uang utama dunia.

Nah dari keempat strategi ini tidak ada satupun yang dikerjakan serius oleh para aktivis anti riba pendukung Dinar. Alih-alih malah tindakannya justru mendegradasi. Sudah hampir setengah abad masih dalam tahap propaganda. Paling banter mengadakan bazar skala terbatas. Bahkan dalam penyetaraan standard pun masih jauh. Masing-masing wakala punya format dan standard sendiri. Akibatnya Dinar hanya dipakai sebagai barang investasi itupun peminatnya terus menurun tergerus produk emas inovative lainnya seperti minigold, logam mulia, dll.

Kesimpulan pribadi saya untuk saat ini kampanye Dinar masih sebatas Ilusi dan angan-angan Utopia. Para penggiatnya seperti tidak ada niat serius. Seolah-olah hanya ingin meramaikan agar Wakala miliknya laku. Melihat di forum-forum mereka, malah agitasinya justru menyerang aktivis ekonomi syariah.

Kalimantan Paru Paru Dunia Yang “Terkena Corona”

Kalimantan Paru Paru Dunia Yang “Terkena Corona”

Kalimantan paru paru dunia yang dahulu disematkan kepada Kalimantan Indonesia karena Hutan nya yang terjaga keaslian nya. Namun saat ini sudah banyak hutan yang dibabad untuk membuka perkebunan Kelapa sawit, pertambangan dll oleh para pengusaha.

Green Peace atau para pecinta lingkungan hidup sudah lama mengingatkan akan bahayanya penggundulan atau pembabatan hutan dengan sekala besar besaran dengan alasan investasi dll.

Kalimantan PARU-PARU DUNIA YANG “TERKENA CORONA”

Pulau Kalimantan Paru Paru Dunia
Banjir Kalimantan awal tahun 2021

Dulu, para ilmuan dunia berkata bahwa paru-paru dunia itu ada di Indonesia. Hutan Indonesia kabarnya mengalahkan rimbanya amazon di amerika selatan.

Para aktivis lingkungan sudah dari dulu berteriak untuk jaga dan lindungi hutan. Karena dari hutan lah semuanya akan terselamatkan.

Dulu banyak yang menertawakan para aktivis lingkungan. Menganggap mereka terlalu mengkhawatirkan keadaan. Ratusan juta hektare hutan tidak akan rusak apabila hanya 10% yang dimanfaatkan untuk membantu perekonimian rakyat dengan membuka lahan perkebunan.

Sayangnya, sekali membuka maka akan terus membabat ke dalam.

Ilustrasinya sama dengan memecah uang 100 ribuan. Sekali terpecah uang itu, maka ia akan terus tergerus hingga tidak ada lagi tersisa ditangan.

Hampir separuh kehilangan hutan nasional pada 2015 terjadi di Kalimantan, yaitu mencapai 323.000 hektar (798.000 acre). Studi terkini menunjukkan bahwa perluasan lahan perkebunan kelapa sawit banyak terjadi di Kalimantan sejak tahun 2005, dan sebagian besar perluasan tersebut dilakukan dengan mengorbankan wilayah berhutan.

Green peace sendiri mengungkapkan, bahwa selama 50 tahun separuh hutan hujan di kalimantan selatan telah hilang dan berganti lahan perkebunan dan pertambangan.

Hutan Pulau Kalimantan Sebagai Paru Paru Dunia

Kalimantan Selatan ada 11 kabupaten. Dan musibah banjir yang terjadi saat ini, merendam semua kabupaten dan menimbulkan korban jiwa. Bagi masyarakat Kalsel, ini merupakan sejarah bagaimana provinsi mereka bisa rata merasakan banjir pada waktu bersamaan.

Saya sendiri beberapa hari jadi bengong, kok bisa kalimantan bisa terendam banjir sampai dahsyat begitu? Bukankah disana paru-parunya dunia?

Hujannya biasa, terkadang lebat dengan curah yang tinggi. Namun menjadi luar biasa saat tidak ada yang bisa menampung mereka. Ibarat menetes di permukaan tembok, air langsung meluncur ke permukaan rendah dimana permukaan itu tempatnya masyarakat bermukim. Tidak ada lagi air yang terserap dan menjadi cadangan, tidak ada lagi pepohonan yang merangkul air untuk bercengkrama.

Air hujan yang turun sepi mencari rekan yang dulu menyapa gembira kala mereka datang. Tidak ada lagi teman yang dulu mengulurkan tangan pada mereka, hingga akhirnya mereka menjadi lawan masyarakat yang bermukim di bawah. Menyapu mereka dengan tatapan sedih karena harta benda yang tersapu bencana.

Hujan itu mengejutkan, mereka ingin sekali jatuh di atas dedaunan. Mereka rindu untuk menyambut akar di kedalaman bumi. Mereka ingin sekali memeluk batang pohon yang kuat dan lebat. Sekarang, mereka jatuh ke tanah kosong yang angkuh. Tanahnya sepertinya mendorong mereka menjauh dan mengalir ke tempat lain.

Kontras…

Sebuah pulau yang terkenal karena hijaunya, kini malah berselimut genangan air yang dingin. Jika Kalimantan bisa terendam, jangan kaget apabila esok kita mendengar Papua pun akan mengalami hal serupa.

Karena hutan Papua, telah mengalami apa yang terjadi pada hutan Kalimantan. Sedikit demi sedikit berubah menjadi perkebunan. Memenuhi nafsu para oligarki, demi mengeruk keuntungan sepihak.

Sekarang kita paham, mengapa aktivis lingkungan begitu peduli. Berpuluh tahun mereka sudah berkata dan meminta perhatian..

“Lindungi hutan, Jaga hutan..untuk anak dan cucu kita”

Saat kita tersadar, semuanya sudah terlambat.

Paru-paru dunia itu seperti mengikuti trend saat ini, ikut terjangkit corona dan tidak mampu mengobati diri.

# Pray4KalSel

Sumber FB : Setiawan Budi

Budidaya Porang atau Badul yang Bernilai Ekonomis Tinggi Untuk Expor

Budidaya Porang atau Badul yang Bernilai Ekonomis Tinggi Untuk Expor

Budidaya Porang atau Badul ahir ahir ini sangat marak di beberapa wilayah di Indonesia karena memiliki nilai Ekonomi tinggi, harga berpariasi hingga Rp 65000 ribu/kg. Porang atau Badul dengan mudah tumbuh liar di hutan atau kebun sebelum masyarakat mengetahui nilai ekonomis tinggi tersebut.

Tetapi saat ini sangat banyak masyarakat yang berlomba lomba mencarinya ke tengah hutan, lalu bibit nya dikembangkan ditanam di kebun milik masing masing hingga di polybag depan rumah.

Budidaya Porang atau Badul yang Bernilai Ekonomis Tinggi Untuk Expor

Budidaya Porang atau Badul
Panen Porang hasil budidaya

LAGI VIRAL NAMEN CONGLACCONG MENGUNTUNGKAN

PORANG adalah fenomena zaman.
Beratus ratus tahun Porang ada di bumi pertiwi ini. di pinggir jurang. di bawah rumpun bambu, di bawah pohon duku dan pepohonan yang rindang. di semak belukar , di hutan lebat, tanpa ada orang kita sudi menengok atau bisa memanfaatkan nya.

bahkan jadi gulma dan musuh bagi petani karena lebatnya daun porang yg mengalahkan tanaman sayur dll.
di cabut, di babat di buang ke jurang.

Tahun 1943, Jepang datang menjajah negri ini.
bukan untuk mencari rempah rempah seperti orang Eropa.
bukan mencari emas.

tetapi mencari porang atau badul atau konjak untuk memberi makan ratusan ribu pasukan yang sedang berperang di hampir seluruh daratan Asia. Korea, China dll.
Makanan utama mereka ( orang Jepang ) bukanlah beras atau gandum, tapi konjak atau porang.

tetapi proses pengolahan porang jadi makanan sangat dirahasiakan oleh mereka.
mengapa?

karena kalau sampai kita orang Indonesia tahu cara mengolah porang menjadi makanan, jadi beras Shiratake, jadi konyaku, jadi mie Porang. maka mereka khawatir nanti porang kita di konsumsi sendiri dan mereka tidak dapat lagi suplay porang untuk prajurit mereka di luar negri.

Porang Memiliki Nilai Ekonomi Tinggi

Bahan Baku Porang
Mie Shirataki bahan dasar Porang

Bahkan saat armada pengangkut porang mau lewat, yaitu porang yang di kumpulkan dari anak sekolah dan perangkat desa yang di wajibkan setor porang itu, mereka membunyikan alarm. Tujuanya agar rakyat pribumi berlindung atau ngumpet di rumah atau di goa goa yang dikira ada pertanda bahaya.

tujuannya agar rakyat tidak tahu bahwa meraka sedang konvoi ratusan truk pengangkut porang ke pelabuhan.

sehingga sampai saat ini nenek moyang kita tidak mewarisi kita cara pengolahan porang yg memang mereka tidak tahu.

Allah maha adil..
Jepang dan China sebagai pengkonsumsi porang belakangan ini kesulitan stok karena faktor alam dan pertambahan penduduk yang makin banyak butuh porang sangat banyak.
tahun 2014 kemarin datanglah mereka ke Indonesia untuk cari porang. karena memang sumber/pusat porsang dunia ada di Indonesia

pada dasarnya porang sudah di kirim ke sana sejak tahun 1962 oleh PT Ambico Pasuruhan dan PT Sanindo bandung
tapi kebutuhan di sana makin banyak.

maka wakil pemerintah mereka datang langsung untuk kerjasama atau MOU pembelian dan penanaman porang. awalnya dengan Perhutani madiun di saradan sana.
mulai saat itu porang berkembang makin pesat dan luasan lahan porang khususnya di Jatim (Madiun, Nganjuk, Ngawi, Bojonegoro) makin luas .

di tambah lagi tahun ini Badan Pangan Dunia FAO menyatakan dunia dalam keadaan darurat pangan.
dan Indonesia juga merasa perlu memperkuat ketahanan pangan . dan salah satunya adalah Porang yang merupakan substitusi yang ternyata 5 kali lebih baik dari beras. maka booming lah porang di negri ini.

Porang Sudah Menjadi Primadona

Budidaya Porang atau Badul
Porang di iris lalu dijemur

kebutuhan dunia yang sangat besar yang konon baru terpenuhi 5/10% saja dan potensi ratusan juta penduduk indonesia yang pada titik tertentu nanti akan berubah pola makannya dari padi akan berubah makan beras porang.

Hari ini memang baru para artis, para pejabat dan orang orang kaya saja yang makan beras porang karena harganya masih sangat tinggi yaitu sekitar Rp. 160.000 perkilo.
tapi saya optimis 5/10 tahun lagi warga biasa sudah akan ikut akan beras porang yang memang sangat baik bagi kesehatan.

Peluang ini terbaca oleh petani kita, oleh pengusaha kita. maka mulai tahun 2019 kemarin sudah mulai pada gila porang.

porang yang tadinya tanaman liar mulai jadi idola..
ratusan bahkan ribuan hektar lahan berubah jadi lahan porang.

potensi pendapatan porang yang sampai ratusan juta perhektar permusim membuat para pengusaha hang selama ini tidak melirik dunia pertanian mulai berebut peluang bertani porang.

Badul akan jadi pilihan utama dan insya Allah akan terus jadi primadona mengingat bahwa itu adalah kebutuhan pokok dan kebutuhan industri.

semoga hadirnya porang bisa membawa kemaslahatan bagi petani pedesaan dan petani pinggir hutan untuk menikmati hadirnya fenomena porang ini mengingat mereka lah yang ada lahan, ada waktu ada tenaga.

semoga bukan hanya para pemodal dan pengusaha yang kaya raya dari porang tapi yang utama adalah Petani Badulnya.

# Salam sukses petani Pengiat Porang Nusantara .
# salam kompak petani porang P3N.
“PETANI ADALAH RAJA”
(Ngakib Al’Ghozali Ketua Umum DPP P3N)

Sumber
https://www.facebook.com/oh-madura

Badul atau Porang
Porang atau Badul
Budidaya Porang di Polybag
Budidaya Porang di Polybag

Buah Porang

%d blogger menyukai ini: