Kalimantan Paru Paru Dunia Yang “Terkena Corona”

Kalimantan Paru Paru Dunia Yang “Terkena Corona”

Kalimantan paru paru dunia yang dahulu disematkan kepada Kalimantan Indonesia karena Hutan nya yang terjaga keaslian nya. Namun saat ini sudah banyak hutan yang dibabad untuk membuka perkebunan Kelapa sawit, pertambangan dll oleh para pengusaha.

Green Peace atau para pecinta lingkungan hidup sudah lama mengingatkan akan bahayanya penggundulan atau pembabatan hutan dengan sekala besar besaran dengan alasan investasi dll.

Kalimantan PARU-PARU DUNIA YANG “TERKENA CORONA”

Pulau Kalimantan Paru Paru Dunia
Banjir Kalimantan awal tahun 2021

Dulu, para ilmuan dunia berkata bahwa paru-paru dunia itu ada di Indonesia. Hutan Indonesia kabarnya mengalahkan rimbanya amazon di amerika selatan.

Para aktivis lingkungan sudah dari dulu berteriak untuk jaga dan lindungi hutan. Karena dari hutan lah semuanya akan terselamatkan.

Dulu banyak yang menertawakan para aktivis lingkungan. Menganggap mereka terlalu mengkhawatirkan keadaan. Ratusan juta hektare hutan tidak akan rusak apabila hanya 10% yang dimanfaatkan untuk membantu perekonimian rakyat dengan membuka lahan perkebunan.

Sayangnya, sekali membuka maka akan terus membabat ke dalam.

Ilustrasinya sama dengan memecah uang 100 ribuan. Sekali terpecah uang itu, maka ia akan terus tergerus hingga tidak ada lagi tersisa ditangan.

Hampir separuh kehilangan hutan nasional pada 2015 terjadi di Kalimantan, yaitu mencapai 323.000 hektar (798.000 acre). Studi terkini menunjukkan bahwa perluasan lahan perkebunan kelapa sawit banyak terjadi di Kalimantan sejak tahun 2005, dan sebagian besar perluasan tersebut dilakukan dengan mengorbankan wilayah berhutan.

Green peace sendiri mengungkapkan, bahwa selama 50 tahun separuh hutan hujan di kalimantan selatan telah hilang dan berganti lahan perkebunan dan pertambangan.

Hutan Pulau Kalimantan Sebagai Paru Paru Dunia

Kalimantan Selatan ada 11 kabupaten. Dan musibah banjir yang terjadi saat ini, merendam semua kabupaten dan menimbulkan korban jiwa. Bagi masyarakat Kalsel, ini merupakan sejarah bagaimana provinsi mereka bisa rata merasakan banjir pada waktu bersamaan.

Saya sendiri beberapa hari jadi bengong, kok bisa kalimantan bisa terendam banjir sampai dahsyat begitu? Bukankah disana paru-parunya dunia?

Hujannya biasa, terkadang lebat dengan curah yang tinggi. Namun menjadi luar biasa saat tidak ada yang bisa menampung mereka. Ibarat menetes di permukaan tembok, air langsung meluncur ke permukaan rendah dimana permukaan itu tempatnya masyarakat bermukim. Tidak ada lagi air yang terserap dan menjadi cadangan, tidak ada lagi pepohonan yang merangkul air untuk bercengkrama.

Air hujan yang turun sepi mencari rekan yang dulu menyapa gembira kala mereka datang. Tidak ada lagi teman yang dulu mengulurkan tangan pada mereka, hingga akhirnya mereka menjadi lawan masyarakat yang bermukim di bawah. Menyapu mereka dengan tatapan sedih karena harta benda yang tersapu bencana.

Hujan itu mengejutkan, mereka ingin sekali jatuh di atas dedaunan. Mereka rindu untuk menyambut akar di kedalaman bumi. Mereka ingin sekali memeluk batang pohon yang kuat dan lebat. Sekarang, mereka jatuh ke tanah kosong yang angkuh. Tanahnya sepertinya mendorong mereka menjauh dan mengalir ke tempat lain.

Kontras…

Sebuah pulau yang terkenal karena hijaunya, kini malah berselimut genangan air yang dingin. Jika Kalimantan bisa terendam, jangan kaget apabila esok kita mendengar Papua pun akan mengalami hal serupa.

Karena hutan Papua, telah mengalami apa yang terjadi pada hutan Kalimantan. Sedikit demi sedikit berubah menjadi perkebunan. Memenuhi nafsu para oligarki, demi mengeruk keuntungan sepihak.

Sekarang kita paham, mengapa aktivis lingkungan begitu peduli. Berpuluh tahun mereka sudah berkata dan meminta perhatian..

“Lindungi hutan, Jaga hutan..untuk anak dan cucu kita”

Saat kita tersadar, semuanya sudah terlambat.

Paru-paru dunia itu seperti mengikuti trend saat ini, ikut terjangkit corona dan tidak mampu mengobati diri.

# Pray4KalSel

Sumber FB : Setiawan Budi

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: